Sebuah persahabatan tidak hanya sekedar kata-kata, namun juga dibuktikan dengan tindakan. Hal inilah yang dilakukan Qin Jiao.
Kisah ini berawal ketika Qin yang saat itu masih berusia 9 tahun mengetahui sahabatnya, Ying Hui tidak bisa berangkat sekolah.
Akibat sakit polio yang diderita Ying, tubuhnya lemas, sehingga tak dapat lagi berjalan.
Karena keluarga Ying tak mampu membopongnya, Qin memutuskan untuk
menolong sang sahabat. Bocah perempuan berusia 13 tahun ini pun
membiarkan Ying bersandar di punggungnya setiap pergi dan pulang
sekolah. Menggendongnya.
Seperti dilansir Oddity Central, Jumat (8/8/2014), Qin telah membopong sahabatnya di punggung dan melewati perjalanan 4 mil atau 6,4 km untuk sampai ke sekolah selama 3 tahun berturut-turut. Ia pun tak pernah mengeluh lelah. Meski harus bangun pukul 06.00 pagi setiap hari, menjemput Yin, lalu membopongnya ke sekolah.
Seperti dilansir Oddity Central, Jumat (8/8/2014), Qin telah membopong sahabatnya di punggung dan melewati perjalanan 4 mil atau 6,4 km untuk sampai ke sekolah selama 3 tahun berturut-turut. Ia pun tak pernah mengeluh lelah. Meski harus bangun pukul 06.00 pagi setiap hari, menjemput Yin, lalu membopongnya ke sekolah.
Ketika sampai di sekolah, Qin dibantu teman laki-lakinya, membopong Ying ke ruang kelas yang berada di lantai 2.
Kisah perjuangan Qin pun kemudian terdengar oleh pemerintah setempat.
Bantuan berupa kursi roda akhirnya diberikan untuk Ying pada September
2013.
Qin pun dianggap sebagai pahlawan karena kerelaann dan kasih
sayangnya pada sahabat. "Menyenangkan dipuji seperti itu, tapi aku
tidak melakukannya demi mendapatkan pujian," ucap Qin.
"Yin adalah sahabatku, tanpa kehadirannya di sekolah, rasanya tidak enak. Jika itu berarti aku harus membopongnya, maka itulah yang akan aku lakukan," tutur gadis yang hidupnya sederhana itu.
"Yin adalah sahabatku, tanpa kehadirannya di sekolah, rasanya tidak enak. Jika itu berarti aku harus membopongnya, maka itulah yang akan aku lakukan," tutur gadis yang hidupnya sederhana itu.
"Saya tidak keberatan sama sekali. Ini memberikan kami kesempatan
untuk saling bercerita sebelum dan sesudah pulang sekolah," lanjut dia.
Ketika ada tugas mengarang di kelas, Ying menyebut, salah satu orang
yang paling penting dalam hidupnya adalah Qin -- sahabatnya.
"Dia (Qin) menggunakan bahunya untuk menggendongku. Aku tidak akan pernah bersekolah jika bukan karena dia. Dia adalah sahabatku," tulis Ying.
"Dia (Qin) menggunakan bahunya untuk menggendongku. Aku tidak akan pernah bersekolah jika bukan karena dia. Dia adalah sahabatku," tulis Ying.
Kedua gadis kecil itu akan segera lulus dari sekolah dasar. Qin
sendiri bertekad untuk tetap membantu sahabatnya ketika masuk sekolah
menengah pertama nanti.
Namun karena kondisi keluarga Ying yang miskin, impian memperoleh
pendidikan lanjutan bagi gadis malang itu nampaknya sulit terwujud.
(Imelia Pebreyanti/Ein)
Sumber : Liputan6.com



0 comments:
Post a Comment