
Berita Kita, Global Waemin, Banyak yang resah dengan isu global warming. Sebagian membuat gerakan
berupa Earth Hour, Go Green, dan lain-lain untuk menyelamatkan bumi.
Tahu nggak sih, global warming tidak selamanya merupakan kabar buruk
bagi bumi, lho. Malah bisa menyelamatkan lingkungan! Kok bisa?
Secara
umum, manusia masih bisa bertah
an di cuaca panas ekstrim dibanding
cuaca dingin ekstrim. Itu sebabnya banyak yang tinggal di kawasan
ekuator yang hangat dibanding dengan bagian kutub bumi. Jadi masuk akal
juga bila global warming mungkin bisa mencegah terjadinya Ice Age.
Ice Age sempat terjadi berjuta-juta tahun lalu saat bumi belum dihuni
manusia. Periode pendinginan bumi terjadi sekurang-kurangnya empat
kali, dan ini disebabkan perubahan orbit bumi mengelilingi matahari.
Saat ini bisa dibilang bumi sedang dalam keadaan normal dan global
warming bisa menghambat Ice Age, menurut beberapa ahli. Setidaknya
selama beberapa abad ke depan, iklim tidak akan mendingin.
Musim
dingin bisa membunuh manusia. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
terkena serangan hawa sangat dingin bisa menyebabkan berbagai jenis
kematian, mulai dari serangan jantung, penyakit berinfeksi, hingga
kelainan sistem pencernaan. Suhu dingin akan membuat segala sistem
dalam tubuh mengalami banyak beban.
Ini hanya satu teori yang berlaku bagi penduduk yang tinggal di
negara empat musim. Penelitian ini sendiri dilakukan di Amerika
Serikat. Bagi yang tinggal di dekat dengan khatulistiwa, ini malah jadi
malapetaka. Malaria, tenggelamnya pulau, banjir, dan lain-lain sangat
mungkin melanda negara kita. Jadi, mending tinggal di Indonesia atau
pindah, nih?
Jika bertani di Amerika dan Eropa, maka global
warming adalah teman bagi petani. Saat temperatur meningkat, maka area
seperti tundra akan memproduksi vegetasi. Dengan kata lain, maka ini
akan menambah masa waktu musim untuk bercocok tanam. Kanada dan bagian
Eropa lainnya bisa memproduksi bahan makanan lebih banyak dari biasa.
Dan harus diingat, tanaman membutuhkan CO2. Apabila tumbuhan yang
ditanam adalah yang memerlukan sedikit air, maka ini bisa menjadi cara
efisien untuk bercocok tanam. Tapi memang tidak semuanya memerlukan
tanah kering dan air sedikit, jadi hanya sedikit tanaman yang cocok
dengan iklim seperti ini.
Rute perjalanan adalah faktor yang
membuat produk-produk luar negeri menjadi mahal. Sejak pelayaran dari
Asia ke Eropa ditemukan, makin banyak orang yang senang mengimpor
barang. Penemuan seperti pembuatan Terusan Suez dan Panama adalah
terobosan untuk mengurangi waktu agar kapal bisa berlayar lebih cepat.
Terima kasih pada global warming, es yang berada di bawah laut akan
mencair dan ini akan mempersingkat waktu pengiriman barang dari Eropa ke
Asia dan sebaliknya. Barang impor menjadi semakin murah. Namun ini
juga menjadi berita buruk karena ada pengilangan minyak di laut tepat di
bawah permukaan es. Jadi tinggal tunggu waktu sampai laut tercemar
oleh minyak.
Banyak yang mengatakan, Badai Katrina dimulai akibat
global warming. Teori bahwa badai dihasilkan dari energi panas yang
dihantarkan dari samudra, menyebabkan sangat mungkin badai akan
“diproduksi” lebih banyak samudra yang menghangat.
Tapi studi menunjukkan kenyataan lain. Sekumpulan ahli oceanografi
mengatakan sejak samudra dan lautan menjadi lebih hangat, badai yang
menerpa Amerika Serikat menjadi jauh lebih sedikit. Temperatur yang
menjadi lebih panas menambah vertikal gerakan angin yang bisa membasmi
petir dan badai yang “dibuat” di Samudra Atlantik.
Fakta bahwa
hutan tropis banyak dibabat dan mengalami kebakaran tiap tahun membuat
banyak orang khawatir. Ditambah lagi perubahan curah hujan yang membuat
siklus hujan menjadi tak tentu. Jadi, sebetulnya dimana letak manfaat
global warming?
Temperatur yang hangat dan adanya tambahan nitrogen dari hujan asam
sebetulnya bagus bagi vegetasi hutan topis. Meski pun ini terdengar
aneh, hutan tropis sepertinya tetap bisa bertahan dengan curah hujan
sedikit. Tapi dengan “sembuhnya” hutan tropis, manusia malah semakin
kalap menebangi pepohonan.


0 comments:
Post a Comment