Thursday, August 6, 2015

Berita Kita,
Beberapa bulan terakhir ini, gerakan “Ayo Mondok” menjadi perbincangan hangat di media sosial. Kata mondok (lihat pondok) itu sendiri sudah dikenal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang memiliki empat makna; (1) bangunan untuk tempat sementara; (2) rumah; (3) bangunan tempat tinggal yang berpetak-petak yang berdinding bilik dan beratap rumbia; (4) madrasah dan asrama (tempat mengaji, belajar agama Islam). Dari empat makna di atas, nomor empat lebih tepat untuk mengartikulasikan gerakan “Ayo Mondok”. 

Jadi, gerakan ini mengajak para orangtua untuk menyekolahkan anaknya ke pondok. Gerakan ini digagas oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) yang berafiliasi dengan NU. “Ayo Mondok” bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai spiritual dan moral para pelajar selama mereka berada di pondok. Namun, niatan mulia ini ada saja yang mencurigainya sebagai barian dari gerakan dan agenda Jaringan Islam Liberal (JIL). 
Terlepas dari hal itu, saya ingin menunjukkan bahwa gerakan mondok yang dimaksud insya Allah baik untuk pendidikan anak di masa depan untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin bebas. Paling tidak, bila seorang anak dipondokkan, ada lima keuntungan yang bisa diperoleh. Yuk, cekidot. Berikut 5 pesan tersebut:


1. Dapat bimbingan intensif dari kyai
Salah satu kunci sukses menuntut ilmu adalah mendapat perhatian khusus dan bimbingan yang intensif dari guru. Di pondok, anak akan selalu mendapat sentuhan spiritual maupun moral dari seorang kyai. Selain selalu mendoakan santrinya, kyai juga selalu memantau perkembangan para santrinya, baik lahir maupun batin. Sehingga, anak tidak hanya belajar untuk menjadi orang pandai saja, tetapi juga dididik agar menjadi orang yang dapat mengamalkan ilmu yang ia dapat di pondok. Betul, tanpa mondok pun anak-anak kita dapat mengakses kajian Islam apa pun yang dia inginkan dengan bantuan internet. Namun, ilmu yang didapatkan, mungkin tidak akan menyentuh psikologi-spritualitas si anak. Bukankah ada pesan dalam bahasa Arab yang mengatakan, “man laisa lahu syaikh fi al-ta’allum, fa syaikhuhu syaithan (seseorang yang belajar tanpa bimbingan guru, maka gurunya adalah setan)”.


2. Belajar sederhana dan mandiri
Pondok adalah salah satu lembaga yang dapat mengajarkan anak mengerti arti kesederhanaan sesungguhnya. Tidur di atas kasur lipat, makan seadanya, mencuci pakaian sendiri, merapihkan lemari sendiri, dan lain sebagainya. Jika sejak dini anak diajarkan kesederhanaan, paling tidak ketika dia besar dapat meminimalisir sifat-sifat tamak yang sering kita saksikan dari pejabat korup di negeri ini. Sehingga, dari kesederhanaan yang ia jalankan, sifat kemandirian akan muncul dengan sendirinya. Yakinlah, anak tidak akan sengsara seperti kekhawatiran banyak orangtua. Bukankah Nabi Muhamad sejak kecil tidak sempat merasakan kasih sayang orangtuanya setelah keduanya meninggal? Justru, menitipkan anak di pondok itu bagaikan mendidik anak agar mandiri seperti Nabi yang jadi panutan umat Islam di seluruh dunia. Ingin bukan, kalau anak menjadi panutan banyak umat?


3. Belajar mengenali lingkungan
Para santri yang belajar di pondok, biasanya datang dari berbagai latar belakang yang berbeda, baik dari suku, budaya, bahasa, dan lain sebagainya. Perbedaan latar belakang tentu mempengaruhi terhadap karakter orang itu sendiri. Orang Madura berbeda dengan orang Sunda, orang Jawa berbeda dengan orang Padang, dan begitupun seterusnya. Dari sini, anak akan belajar banyak sekali terkait perbedaan antar sesama penduduk Indonesia yang berada dalam teritorial yang berbeda. Sehingga, hal ini bermanfaat untuk anak di masa depannya agar memiliki sikap toleransi yang diajarkan oleh Islam dan dapat dengan mudah mengenali masyarakat yang ada di lingkungan sekitarnya.


4. Belajar bertanggung jawab
Pondok juga mengajarkan bagaimana anak dapat bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya. Bila dia bersalah, maka pondok memberikannya sangsi berupa takzir, seperti digundul, membersihkan halaman sekitar pondok, menghapal pelajaran, dan lain sebagainya. Sanksi tersebut diharapkan dapat menyadarkan bahwa perbuatan melanggar aturan itu adalah tidak baik. Tentu, akan tergambar dalam benaknya bahwa santri yang ditakzir adalah santri yang tidak baik. Sehingga, sanksi tersebut dapat menanamkan dalam benak anak untuk berani bertanggung jawab bila ia melanggar peraturan yang ditetapkan pondok. Bukankah permasalahan terbesar bangsa ini adalah lemahnya penerapan hukum?


5. Ikhlas berbuat untuk masyarakat
Ingat pesan Nabi yang ini: “Sebaik-baik manusia adalah dia yang bermanfaat untuk sesama” (H.R.Thabrani)? Nah, pondok merupakan salah satu sarana bagaimana anak peka terhadap lingkungannya tanpa mengharapkan imbalan, apalagi sampai mentarif bayaran tertentu. Jadi, sejak dini anak sudah ditanamkan sifat-sifat “malaikat” yang membantu orang yang membutuhkan tanpa mengharap imbalan tertentu. Bahkan, Al-Munawi dalam Faidhul Qadir mengatakan bahwa maksud manusia yang terbaik dalam Hadis di atas adalah pemimpin yang adil. Ketika seseorang sudah dapat berlaku adil, maka tawaran materi sebesar apa pun akan ia tolak. Ini berarti dia telah ikhlas berbuat untuk masyarakatnya.

0 comments:

Post a Comment

Unordered List

Sample Text

Powered by Blogger.

Terpopuler