Berita Kita,
Beberapa bulan terakhir ini, gerakan “Ayo Mondok” menjadi perbincangan
hangat di media sosial. Kata mondok (lihat pondok) itu sendiri sudah
dikenal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang memiliki empat
makna; (1) bangunan untuk tempat sementara; (2) rumah; (3) bangunan
tempat tinggal yang berpetak-petak yang berdinding bilik dan beratap
rumbia; (4) madrasah dan asrama (tempat mengaji, belajar agama Islam).
Dari empat makna di atas, nomor empat lebih tepat untuk
mengartikulasikan gerakan “Ayo Mondok”.
Jadi, gerakan ini mengajak
para orangtua untuk menyekolahkan anaknya ke pondok. Gerakan ini digagas
oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) yang berafiliasi dengan NU. “Ayo
Mondok” bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai spiritual dan moral para
pelajar selama mereka berada di pondok. Namun, niatan mulia ini ada saja
yang mencurigainya sebagai barian dari gerakan dan agenda Jaringan
Islam Liberal (JIL).
Terlepas dari hal itu, saya ingin menunjukkan
bahwa gerakan mondok yang dimaksud insya Allah baik untuk pendidikan
anak di masa depan untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin bebas.
Paling tidak, bila seorang anak dipondokkan, ada lima keuntungan yang
bisa diperoleh. Yuk, cekidot. Berikut 5 pesan tersebut:
1. Dapat bimbingan intensif dari kyai
Salah satu kunci sukses menuntut ilmu adalah mendapat perhatian khusus
dan bimbingan yang intensif dari guru. Di pondok, anak akan selalu
mendapat sentuhan spiritual maupun moral dari seorang kyai. Selain
selalu mendoakan santrinya, kyai juga selalu memantau perkembangan para
santrinya, baik lahir maupun batin. Sehingga, anak tidak hanya belajar
untuk menjadi orang pandai saja, tetapi juga dididik agar menjadi orang
yang dapat mengamalkan ilmu yang ia dapat di pondok. Betul, tanpa mondok
pun anak-anak kita dapat mengakses kajian Islam apa pun yang dia
inginkan dengan bantuan internet. Namun, ilmu yang didapatkan, mungkin
tidak akan menyentuh psikologi-spritualitas si anak. Bukankah ada pesan
dalam bahasa Arab yang mengatakan, “man laisa lahu syaikh fi
al-ta’allum, fa syaikhuhu syaithan (seseorang yang belajar tanpa
bimbingan guru, maka gurunya adalah setan)”.
2. Belajar sederhana dan mandiri
Pondok adalah salah satu lembaga yang dapat mengajarkan anak mengerti
arti kesederhanaan sesungguhnya. Tidur di atas kasur lipat, makan
seadanya, mencuci pakaian sendiri, merapihkan lemari sendiri, dan lain
sebagainya. Jika sejak dini anak diajarkan kesederhanaan, paling tidak
ketika dia besar dapat meminimalisir sifat-sifat tamak yang sering kita
saksikan dari pejabat korup di negeri ini. Sehingga, dari kesederhanaan
yang ia jalankan, sifat kemandirian akan muncul dengan sendirinya.
Yakinlah, anak tidak akan sengsara seperti kekhawatiran banyak orangtua.
Bukankah Nabi Muhamad sejak kecil tidak sempat merasakan kasih sayang
orangtuanya setelah keduanya meninggal? Justru, menitipkan anak di
pondok itu bagaikan mendidik anak agar mandiri seperti Nabi yang jadi
panutan umat Islam di seluruh dunia. Ingin bukan, kalau anak menjadi
panutan banyak umat?
3. Belajar mengenali lingkungan
Para
santri yang belajar di pondok, biasanya datang dari berbagai latar
belakang yang berbeda, baik dari suku, budaya, bahasa, dan lain
sebagainya. Perbedaan latar belakang tentu mempengaruhi terhadap
karakter orang itu sendiri. Orang Madura berbeda dengan orang Sunda,
orang Jawa berbeda dengan orang Padang, dan begitupun seterusnya. Dari
sini, anak akan belajar banyak sekali terkait perbedaan antar sesama
penduduk Indonesia yang berada dalam teritorial yang berbeda. Sehingga,
hal ini bermanfaat untuk anak di masa depannya agar memiliki sikap
toleransi yang diajarkan oleh Islam dan dapat dengan mudah mengenali
masyarakat yang ada di lingkungan sekitarnya.
4. Belajar bertanggung jawab
Pondok juga mengajarkan bagaimana anak dapat bertanggung jawab atas
perbuatan yang dilakukannya. Bila dia bersalah, maka pondok
memberikannya sangsi berupa takzir, seperti digundul, membersihkan
halaman sekitar pondok, menghapal pelajaran, dan lain sebagainya. Sanksi
tersebut diharapkan dapat menyadarkan bahwa perbuatan melanggar aturan
itu adalah tidak baik. Tentu, akan tergambar dalam benaknya bahwa santri
yang ditakzir adalah santri yang tidak baik. Sehingga, sanksi tersebut
dapat menanamkan dalam benak anak untuk berani bertanggung jawab bila ia
melanggar peraturan yang ditetapkan pondok. Bukankah permasalahan
terbesar bangsa ini adalah lemahnya penerapan hukum?
5. Ikhlas berbuat untuk masyarakat
Ingat pesan Nabi yang ini: “Sebaik-baik manusia adalah dia yang
bermanfaat untuk sesama” (H.R.Thabrani)? Nah, pondok merupakan salah
satu sarana bagaimana anak peka terhadap lingkungannya tanpa
mengharapkan imbalan, apalagi sampai mentarif bayaran tertentu. Jadi,
sejak dini anak sudah ditanamkan sifat-sifat “malaikat” yang membantu
orang yang membutuhkan tanpa mengharap imbalan tertentu. Bahkan,
Al-Munawi dalam Faidhul Qadir mengatakan bahwa maksud manusia yang
terbaik dalam Hadis di atas adalah pemimpin yang adil. Ketika seseorang
sudah dapat berlaku adil, maka tawaran materi sebesar apa pun akan ia
tolak. Ini berarti dia telah ikhlas berbuat untuk masyarakatnya.


0 comments:
Post a Comment