Wednesday, August 12, 2015

Berita Kita, Rumah berukuran 4x5 meter berdiri di tengah perkebunan di kawasan Desa Siakin, Kintamani, Bangli, Bali.

Gubuk yang difungsikan sebagai rumah ini sudah berdiri selama 20 tahun lamanya.

Selama itu pula tak pernah ada bantuan dari pemerintah.

"Kalau saya bicara, saya tidak enak, tapi memang tidak pernah ada bedah rumah. Tidak ada bantuan biaya sekolah,” kata I Nyoman Alus (45).

Selama ini dia membangun sendiri.

Jika ada kayu yang sudah lapuk, dia ganti sendiri dengan mencari kayu di hutan.

Alus yang kemarin didampingi istrinya Ni Nyoman Rekin (40) dan putri bungsunya, Ni Kadek Monik (3) juga berharap ada bantuan pemerintah.


"Kalau boleh berharap, saya harap ada keadilan untuk saya dari pemerintah. Entah apa sebab saya tidak mendapatkan apa-apa, hanya bantuan beras yang pernah saya rasakan dulu," harapnya yang bekerja sebagai buruh di perkebunan ini.

Di gubuk inilah dia menghabiskan waktunya bersama istri dan anaknya.

Kata Alus, gubuk itu didirikannya sejak 20 tahun lalu.

"Rumah ini saya bangun setelah kami menikah," kata Alus sambil menyentuh pintu gubuknya yang terlihat rapuh.

Pantauan Tribun Bali, lantai rumah ini berfondasi satu lapis batako.

Di dalam kamar, ada dua ranjang berbahan bambu.

Di atas ranjang, keluarga ini tidur hanya berlapis kain dan karpet.


Pakaian, peralatan kerja, perabotan rumah tangga dan piranti memasak tergantung di dinding bambu.

"Kami gantung saja untuk menutupi lubang-lubang bambu," ujarnya.

Dua lembar terpal dipasang untuk menutup langit-langit agar saat musim hujan, airnya tidak merembes masuk.

"Selama itu, saya hanya mengganti dinding bambunya saja. Karena yang sebelumnya sudah rapuh," tutur Alus.

Alus dan Rekin memiliki enam anak.

Dua di antaranya meninggal dunia.

Empat lainnya terlahir sehat dan tumbuh besar.


Setali tiga uang dengan potret kemiskinan hidup yang mereka alami, nasib pendidikan anak-anaknya juga memprihatinkan.

Kata Rekin, belum satupun anak-anaknya itu mampu melangkah ke bangku SMP.

Ada yang putus di tengah jalan, ada yang tidak bisa melanjutkan, ada juga yang sengaja memilih bekerja.

"Semuanya sudah putus sekolah dan mereka bekerja. Dua jadi buruh cengkeh, satunya jadi buruh di Denpasar bersama kerabat saya," katanya.

Karena itu, besar harapan Rekin agar si bungsu mampu melampaui saudaranya.

Rekin bertekad mengerahkan segenap usahanya agar Monik menjadi anak yang setidaknya bisa membaca, menulis dan berhitung dengan lancar.

"Kami keluarga buta huruf. Anak-anak saya bisa baca tulis sedikit. Saya akan usahakan agar Monik bisa sekolah," ujarnya. (*)

0 comments:

Post a Comment

Unordered List

Sample Text

Powered by Blogger.

Terpopuler